Farmasi..? hmm.. dulu awalnya ndak kepikiran bisa kuliah di farmasi. Bahkan sampai sekarang pun di banyak wilayah, profesi farmasi itu belum begitu dikenal oleh masyarakat umum. Profesi ini lebih cenderung di kenal masyarakat awam dengan sebutan pedagang obat, namun jika seorang apoteker/farmasis bekerja di sebuah rumah sakit sebutan tukang obat memang tidak ada, tapi justru hanya disebut sebagai pegawai rumah sakit.
Tulisan APOTEKER di sebuah apotek umum ataupun apotek rumah sakit juga sama, jarang ada yang menyebutkan apoteker di rumah sakit dengan sebutan apoteker (kecuali di kota mungkin) tapi tetap disebut sebagai pegawai rumah sakit. Namun di apotek umum tetap lebih dikenal dengan pedagang obat. “wah berarti disamakan dengan pedagang obat keliling dong”.
Trus bagaimana upaya untuk memperkenalkan status keprofesian farmasi ke khalayak umum (kepada masyarakat awam) ini adalah tugas berat, karena kita bukan seperti profesi dokter yang lebih mudah diingat oleh masyarakat. Kita bukan seperti perawat dan bidan yang juga bisa dengan mudah memperkenalkan diri di masyarakat.
Tulisan APOTEKER di sebuah apotek umum ataupun apotek rumah sakit juga sama, jarang ada yang menyebutkan apoteker di rumah sakit dengan sebutan apoteker (kecuali di kota mungkin) tapi tetap disebut sebagai pegawai rumah sakit. Namun di apotek umum tetap lebih dikenal dengan pedagang obat. “wah berarti disamakan dengan pedagang obat keliling dong”.
Trus bagaimana upaya untuk memperkenalkan status keprofesian farmasi ke khalayak umum (kepada masyarakat awam) ini adalah tugas berat, karena kita bukan seperti profesi dokter yang lebih mudah diingat oleh masyarakat. Kita bukan seperti perawat dan bidan yang juga bisa dengan mudah memperkenalkan diri di masyarakat.

4 komentar:
Farmasi itu..waktu sy kuliah dulu karena lebih banyak dikelilingi jurusan teknik yang mayoritas cowok, maka farmasi ke bwa2 menjadi jurusan teknik farmasi, ada juga yang nyebut Farmesin biar dket2 jurusan mesin hehe.
Kalau dibandingkan bidang lain, bidang farmasi adalah bidang yang dalam benak kebanyakan orang termasuk sesuatu yang tak dekat dengan keseharian. Padahal sejatinya, bidang farmasi menyentuh kehidupan semua orang, setiap hari. Setiap hari ketika kita makan, bersolek atau mandi, produk-produk farmasi mewarnai hari-hari kita.
Salah satu upaya menjembatani kesenjangan itu adalah melalui media, yang dapat diakses semua orang. Media dapat meraih banyak orang dengan waktu yang singkat sehingga sangat efektif untuk memberikan informasi dan edukasi. Misalnya saja mengampanyekan cara penggunaan obat yang rasional, termasuk penggunaan antibiotik yang seakan menjadi obat dewa di negeri ini. Atau membawa persepsi masyarakat tentang efektifitas obat generik.
Tidak mudah, tapi juga bukan tidak mungkin.
Kalau saya lain lagi, saya bukan anak jurusan Farmasi, sama sekali belum tau menau tentang farmasi tetapi sekarang justru saya kerja di Perusahaan Farmasi. Nah low, gimana tuh, harus belajar banyak nech, bisa dibantu ya ama anak-anak farmasi...
Sebentar lagi orang Indonesia juga akan mengerti dengan istilah-istilah itu, karena orang Indonesia makin hari makin pintar.
muganandaf09.student.ipb.ac.id
Poskan Komentar